131 Views
Uncategorized

Telah ku kembalikan kepada-Nya

 

Aku bersyukur setiap kali aku merasakan sakit ini. Setelah beberapa hari istirahat hati yang masih menyayat perih, aku menyempatkan untuk menuliskan sesuatu yang ingin hatiku sampaikan dan tegaskan untuk diriku sendiri. Sebagai bahan pelajaran terbaik untuk hidupku.
Menyakitkan ketika kita ditinggalkan oleh orang yang sangat berarti untuk hidup kita.

Dulu sekali… aku menyimpan, mengemas hatiku dengan sangat rapih tak ingin ada yang menyentuhnya apalagi membuatnya luka. Kusimpan baik-baik selama bertahun-tahun lamanya, karena aku hanya akan memberikannya kepada yang tulus ingin memiliki dan menjaganya sepenuh hati.

Betapa bodohnya ketika aku terlalu menjaga hati, sampai akhirnya aku punya ketakutan tersendiri akan luka. Tuhan mengingatkanku agar tidak takut dan memang aku harus mengalami luka, apapun yang terjadi. Sebaik-baiknya aku menjaga hatiku aku akan mendapatkan luka, jadi nikmatilah.

Aku memilih membuka bingkisan terbaik yang pernah kujaga untuk seseorang yang sangat berarti, hingga akhirnya kembali lagi kepadaku tidak dalam keadaan utuh. Untuk hati yang kujaga selama ini, Maaf… aku membuatmu hancur dan berdarah.

Setiap hari sakit yang menyayat itu menghampiri, aku berdoa sekuat tenaga untuk diberikan kekuatan supaya dapat melewati masa-masa ini.

Kini, aku tak lagi membungkusnya dengan kain terbaik, tak lagi menyimpannya sendiri dengan baik-baik. Karena usaha-usahaku sungguh tidak sanggup mengobatinya sendirian, aku terlalu lemah karena apa yang kujaga selama ini telah kembali dengan luka-luka.

Aku menyerahkan hatiku seutuhnya kepada Tuhanku Yesus Kristus, sang Pencipta dan membiarkan Dia yang mengobati dan menjaga. Jika suatu saat ada yang ingin meminta hatiku, hanya akan meminta kepadaNya. Aku tidak berhak lagi untuk memberikannya kepada siapapun.

Terima kasih kepada Sang pencipta yang maha agung, Terima kasih.

No Comments Found

Leave a Reply