158 Views
History

Inilah Sejarah UNIQLO, Fashion Brand asal Jepang

Berawal dari keinginan membuat judul skripsi tentang UNIQLO, apa daya ada judul lain yang lebih disetujui oleh Dosen Pembimbing saya.  So mari kita bahas sedikit mengenai UNIQLO.

Penggemar produk pakaian kasual pasti sudah familiar dengan merek Uniqlo, sebuah brand asal Negara Sakura, Jepang. Berkantor pusat di Sayama, Kota Yamaguchi, Jepang, Uniqlo berhasil menjadi salah satu merek pakaian yang paling banyak diincar di dunia, termasuk Indonesia.

Ketenaran merek tersebut tidak terlepas dari peran pendiri Uniqlo, yaitu Tadashi Yanai yang diketahui merupakan orang terkaya nomor 2 di Jepang. Tadashi Yanai mengembangkan usaha busana eceran dengan nama dagang Uniqlo yang merupakan singkatan dari “Unique Clothing” sejak tahun 1949.

Berawal dari Ketikdaksengajaan

Mengapa diberi nama Uniqlo? Menurut sejarah Uniqlo, nama Uniqlo adalah sebuah nama yang tidak disengaja. Awalnya, perusahaan ini bernama “Uniclo” yaitu dengan menyingkat “Unique Clothing”. Namun ternyata, ketika perusahaan ini dalam proses registrasi, huruf “C” salah eja dan diganti dengan huruf “Q”. Sejak saat itulah, Yanai memutuskan untuk mengganti nama perusahaan menjadi “Uniqlo”. Menurut dirinya, kesalahan tersebut justru membuat merek brand perusahaannya lebih keren.

Ide berawal dari kunjungan Yanai ke sebuah koperasi universitas di Amerika Serikat yang sangat ramai dikunjungi karena menjual produk pakaian kasual dengan harga yang murah layaknya membeli majalah. Dengan mengusung konsep sebagai sebuah gudang raksasa dengan pilihan yang konstan, Yanai membangun toko grosir pertamanya di Kota Hiroshima pada 2 Juni 1984. Uniqlo merupakan perusahaan yang menjual pakaian secara ecer dengan merek dagang sendiri.

Tidak seperti kebanyakan toko grosir yang menjual berbagai merek pakaian, di toko Uniqlo, kamu hanya akan menemukan satu merek saja. Sehingga seluruh proses mulai dari pembuatan hingga pemasaran pakaian dilakukan sendiri oleh pihak perusahaan. Hingga saat ini, sudah ada lebih dari 7 toko Uniqlo di Indonesia, tepatnya di Jakarta, Tangerang, Bekasi, Yogyakarta, dan Surabaya.

Mampu Mengubah Stigma

Sepertinya, bakat bisnis pakaian Tadashi Yanai diturunkan dari sang ayah, Hithosi Yanai yang merupakan Direktur Utama Fast Retailling di toko pakaian pria Ogori Shoji Kota Ube. Pada tahun 1984, Tadashi Yanai mengambil alih perusahaan tersebut dan juga di saat yang bersamaan, dirinya membuka Unique Clothing Warehouse. Hingga dalam jangka beberapa tahun kemudian, cabang toko terus bertambah berkat pendaftaran saham Fast Retailing dalam Bursa Saham Hiroshima di tahun 1994.

Puncaknya terjadi pada Oktober 1998, di mana sweater Uniqlo yang berbahan sintetis fleece laku dijual sebanyak 2 juta helai dengan harga per potongnya sebesar ¥ 1.900. Sungguh prestasi yang hebat untuk perusahaan pakaian kasual pada waktu itu. Keberuntungan Yanai sepertinya terus berlanjut, hingga tahun 1999, ia dapat menjual lebih dari 6 juta helai sweater merek Uniqlo. Uniqlo terbukti sukses membuat stigma sweater yang awalnya kuno dan tidak modis, justru banyak digandrungi remaja Jepang. Sehingga, didirikanlah pusat busana anak muda di Tokyo dengan sweater aneka warna yang menjadi produk spesialnya.

Hanya dalam kurun waktu 1998 hingga 1999, Yanai memperoleh keuntungan sebesar 33,6% yaitu menjadi 111 miliar yen dari sebelumnya 83 miliar yen dan meningkat dua kali lipat di tahun 2000 menjadi 229 miliar yen. Dengan keuntungan yang menakjubkan tersebut, perusahaan Uniqlo berencana untuk melakukan ekspansi dengan membuka toko di luar Jepang. Bayangkan saja, bisnis di negara sendiri saja sudah cukup membuat dirinya kaya raya, apalagi jika mulai berekspansi dengan merambah pasar internasional. Tak heran jika ia pernah dinobatkan sebagai orang terkaya nomor 2 di Jepang.

Toko pertama Uniqlo di luar Jepang terletak di Shanghai pada April 1999. Negara lain yang turut menjadi target pasar Uniqlo antara lain London (2007), Paris (2009), New York City (2011), Seoul (2011), Singapura (2009), Taiwan (2010), Malaysia (2010), Thailand (2011), Filipina (2012) dan Indonesia (2013).

Banyaknya cabang toko Uniqlo membuktikan bahwa perusahaan ini tidak main-main untuk bersaing dengan merek-merek ternama lainnya. Hingga hari ini, sudah lebih dari 1.900 total toko yang dibuka di berbagai negara. Unqlo bahkan dinobatkan sebagai perusahaan pakaian terbesar di Asia dan terbesar ketiga untuk kategori dunia.

Untuk Segala Usia

Uniqlo mengusung slogan “Made For All” yang artinya “Dibuat Untuk Semua”. Tujuan utama perusahaan Uniqlo adalah untuk memproduksi pakaian dengan kualitas yang bagus untuk segala usia, mulai dari bayi hingga para lansia serta terlepas dari apapun etnisitasnya. Yanai memiliki aliran pemikiran yang sama dengan Jay, salah seorang mantan kreatif dari produk Nike, bahwa untuk menghasilkan produk bermerek yang dipercaya masyarakat global membutuhkan konsistensi produk yang berkualitas dan hebat.

Uniqlo bahkan pernah bekerja sama dengan Komisaris Tinggi PBB untuk mengirimkan 20,3 juta pakaian yang dibagikan kepada pengungsi korban bencana alam di tahun 2007. Sungguh ini menjadi bisnis yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan saja, namun juga bermanfaat bagi sesama.

Inovasi Produk di Kota-kota Mode Dunia

New York, Paris, London, Tokyo, dan Milan, dijadikan sebagai lokasi Reseacrh and Development (R & D) perusahaan Uniqlo. Lokasi-lokasi tersebut dipilih secara langsung oleh Yanai karena mencerminkan ibu kota mode dunia. Berbagai upaya pengembangan melalui riset-riset dilakukan perusahaan demi mencapai target pasar.

Pada tahun 2016 Uniqlo berhasil menempati peringkat 91 sebagai merek paling berharga di dunia menurut Forbes dengan nilai $ 7 miliar. Fakta ini menjadi motivasi besar bagi para pengembang Uniqlo, bahwa mereka belum mendapatkan puncaknya, mereka baru saja memulai sebagai merek global.

Uniqlo City Tokyo sebagai pusat inovasi global merupakan langkah pertama perusahaan untuk mencapai tujuan. Menurut Jay, Uniqlo bisa menjadi perusahaan ritel terbesar ketiga di dunia setelah H&M (Swedia) dan Zara (Inditex, Spanyol). Bahkan, beberapa analisis dari para pengamat mode dunia memperkirakan Uniqlo dapat menjadi merek fashion nomor satu tanpa harus menjadi yang terbaik di AS.

Bangkit dari Keterpurukan

Kesuksesan Uniqlo saat ini bukanlah sesuatu yang mulus untuk didapatkan. Pada tahun 2006 silam, dua gerai Uniqlo yang berada di Inggris sempat mengalami kemunduran besar karena target penjualan yang tidak dapat dicapai. Bahkan di tahun 2004, Uniqlo terpaksa harus menutup 18 gerainya di daerah Manchester.

Namun, Yanai sebagai pendiri Uniqlo tidak begitu saja mundur dari bisnisnya. Ia justru semakin bersemangat untuk belajar dari pengalamannya dan mencoba mempelajari sisi baik dari para pendahulunya, seperti ZARA Inditex yang kini menjadi saingannya.

Sangat menarik untuk dibahas ya, Saya masih penasaran dengan prinsip sukses dari pemilik Uniqlo ini, Yuk ditunggu di Artikel selanjutnya ya! 🙂

No Comments Found

Leave a Reply